Sabtu, 09 Mei 2009

Rabu, 06 Mei 2009

Selasa, 05 Mei 2009

TIM Y@SA.COM








JL. TAMANSARI (GOBRAS) No.29C TASIKMALAYA Telp (0265) 2351148 HP. 085223152993 E-mail: yasagobrasnet.@yahoo.co.id site: http://yasagobrasnet.blogspot.com/

Y@SA.Computer
- PENJUALAN – UP GRADE – SERVICE – BACKUP DATA - INSTAL PROGRAM – SCANER, PENGETIKAN – RENTAL – INTERNET –
BROWSING – CHATTING – GAMES - MUSIK
Jl. Tamansari (Gobras) No. 29C Tasikmalaya ( (0265) 2351148 HP. 085223152993 E-Mail. yasagobrasnet@yahoo.co.id Website. http://yasagobrasnet.blogspot.com/.





















Nomor : DL 02.02.2.11.07.757 Tasikmalaya, 2 November 2007
Lampiran : -
Perihal : Mohon Izin Penelitian

Kepada Yth;
Kepala SLB YKS Cijeungjing
Kec. Cijeungjing Kab. Ciamis
di-
Tempat

Bersama ini kami hadapkan mahasiswa Program Khusus Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya Tahun Akademik 2007/2008, akan melaksanakan penelitian di SLB YKS Cijeungjing Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis.
Selanjutnya kami informasikan bahwa penelitian tersebut akan digunakan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah (KTI) sebagai tugas akhir dari Pendidikan D.III Kesehatan Gigi.
Adapun nama mahasiswa tersebut adalah sebagai berikut:

Nama :
NIM :
Tingkat :
Semester :
Judul KTI :
Nurlela
P.2.06.025.0.05.051
III (Tiga)
V (Lima)
Pengaruh Pendidikan Orang Tua Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap OHI-S (Oral Hygiene Index Simplified) Siswa Tunagrahita Ringan Sekolah Luar Biasa Yayasan Kesejahteraan Sosial (SLB YKS) Cijeungjing Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis Tahun 2007.

Demikian surat permohonan izin penelitian ini, atas bantuan dan kerjasama yang diberikan kami haturkan ucapan terima kasih.




KEGIATAN Y@SA.COM

TIM Y@SA.COM




Blogger: Unggah Gambar
JL. TAMANSARI (GOBRAS) No.29C TASIKMALAYA Telp (0265) 2351148 HP. 085223152993 E-mail: yasagobrasnet.@yahoo.co.id site: http://yasagobrasnet.blogspot.com/




GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG GIGI TIRUAN DENGAN PEMAKAIAN GIGI TIRUAN PADA MAHASISWA JALUR UMUM
DI JURUSAN KESEHATAN GIGI POLITEKNIK KESEHATAN
TASIKMALAYA TAHUN 2009


SKRIPSI


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan
Pendidikan Program D-IV Perawat Gigi Prostodonsi



Disusun oleh:
DEDE MISBAHUDIN
NIM. P2.06.1.25.07.004



DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA
JURUSAN KESEHATAN GIGI PRODI D-IV
PERAWAT GIGI PROSTODONSI
2009
LEMBAR PENGESAHAN



GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG GIGI TIRUAN DENGAN PEMAKAIAN GIGI TIRUAN PADA MAHASISWA JALUR UMUM
DI JURUSAN KESEHATAN GIGI POLITEKNIK KESEHATAN
TASIKMALAYA TAHUN 2009


SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan
Pendidikan Program D-IV Perawat Gigi Prostodonsi

Tasikmalaya, April 2009
Telah diperiksa dan disyahkan oleh :

Pembimbing I



drg. Anie Kristiani, M.Pd.
NIP. 196408231993032001
Pembimbing II




drg. Culia Rahayu
NIP. 196707112002122001

Mengetahui,
Ketua Program Studi D-IV Perawat Gigi Prostodonsi
Politeknik Kesehatan Tasikmalaya




Ida Dahliasari, S.Si.T., M.Pd.
NIP. 195805241979062001


Mengetahui,
Ketua Jurusan Kesehatan Gigi
Politeknik Kesehatan Tasikmalaya



drg. Hadiyat Miko, M.Kes.
NIP. 196308171993121001
LEMBAR PERSETUJUAN




INTISARI


Oleh: Dede Misbahudin


Survei awal pada mahasiswa jalur umum Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya bulan Desember 2008, ditemukan mahasiswa yang sudah kehilangan gigi tetapnya sebanyak 50 orang dari 125 orang yang diperiksa, tapi masih banyak yang belum menggunakan gigi tiruan yaitu berjumlah 43 orang (86%), dan yang memakai gigi tiruan hanya 7 orang (14%).
Faktor yang mempengaruhi seseorang untuk dapat menggunakan gigi tiruan diantaranya adalah faktor pengetahuan
Penelitian skripsi ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang gigi tiruan pada mahasiswa Jalur Umum dengan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa Jurusan Kesehatan Gigi Tahun 2009.
Kesimpulan hasil penelitian menggambarkan kriteria pengetahuan dengan pemakaian gigi tiruan : kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria kurang sebanyak 5 responden (10,4%) dan tidak memakai gigi tiruan, kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria sedang sebanyak 5 orang (10,4%), memakai gigi tiruan dan 16 orang (33,3%) tidak memakai gigi tiruan, kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria pengetahuan baik sebanyak 1 responden (2,1%), memakai gigi tiruan dan 16 responden (33,3%) tidak memakai gigi tiruan dan kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria pengetahuan sangat baik sebanyak 1 responden (2,1%) memakai gigi tiruan, 4 responden (8,3%) tidak memakai gigi tiruan.

Kata kunci : Pengetahuan,Gigi tiruan.
Kepustakaan : 39 buah, tahun 1982 sampai 2008


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan adalah keadaaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Pengertian ini walaupun masih samar-samar, tapi secara umum dapat diterima semua lapisan (Ali, 2003). Undang-undang RI. No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan menjelaskan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, dilaksanakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan secara menyeluruh, terarah, terpadu dan berkesinambungan (Herijulianti, dkk., 2002).
Pembangunan berwawasan kesehatan sebagai strategi pembangunan nasional yang tercantum dalam visi Departemen Kesehatan yaitu “Indonesia Sehat 2010” salah satu misinya, yaitu memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat beserta lingkungannya (Depkes RI., 2000). Pembangunan kesehatan pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup manusia, meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat (Depkes RI., 1995).
Pembangunan di bidang kesehatan gigi merupakan bagian integral dari pembangunan kesehatan nasional, artinya dalam melaksankan pembangunan kesehatan, pembangunan di bidang kesehatan gigi tidak boleh ditinggalkan, demikian juga sebaliknya bila ingin melaksanakan pembangunan di bidang kesehatan gigi, tidak boleh dilupakan kerangka yang lebih luas, yaitu pembangunan kesehatan umumnya (Suwelo, 1992). Kesehatan gigi merupakan salah satu aspek dari kesehatan secara keseluruhan. Dengan demikian kesehatan gigi juga merupakan hasil dari interaksi antara kondisi fisik, mental dan sosial (Herijulianti, dkk., 2002).
Keadaan sehat, terlebih keadaan sempurna yang diharapkan secara umum belum bisa dicapai, begitu juga dalam bidang kesehatan gigi kondisinya masih memprihatinkan. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menyatakan prevalensi karies pada umur 10 tahun ke atas adalah 71,2% dan prevalensi penderita penyakit gusi 46% yang diperparah dengan motivasi masyarakat untuk menambal gigi masih sangat rendah (4-5%), sementara besarnya kerusakan yang belum ditangani di mana memerlukan penambalan dan atau pencabutan mencapai 82,5%. SKRT (2001) juga menyatakan pada umur 65 tahun ke atas rata-rata 16 gigi dicabut (Nn, 2006). Hasil survei kesehatan nasional dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menunjukkan 60%-70% prevalensi kesehatan gigi di Indonesia ada dalam tingkatan buruk. Umumnya terjadi pembusukan gigi dan gigi berlubang. Tidak mengherankan jika tren gigi permanen tanggal atau ompong semakin meningkat (Nn, 2008).
Salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap kesehatan gigi dan mulut diantaranya faktor pengetahuan masyarakat masih sangat kurang (Soetiarto, 2006). Keadaan gigi ompong atau edentulous merupakan kondisi dimana gigi tidak ada atau hilang terlepas dari soketnya, seperti saat lahir atau pasca pencabutan (Martariwansyah, 2008). Kehilangan satu gigi atau beberapa gigi sangat tidak menyenangkan, solusi dari kondisi seperti itu adalah memakai gigi tiruan (Nn, 2008). Saat ini masih banyak dilakukan tindakan pencabutan gigi, tetapi banyak yang tidak memahami pentingnya pemasangan gigi tiruan, sebagian kecil memahami tetapi “tidak membuat” (Ginanjar, 2008). Gigi tiruan adalah suatu alat tiruan (protesa, prostesis, restorasi) yang dibuat untuk menggantikan gigi yang hilang atau jaringan sekitarnya. Gigi tiruan banyak dipelajari dalam bidang ilmu kedokteran gigi, khususnya dalam bidang prostodonsia (Gunadi, 1991).
Survei awal pada mahasiswa jalur umum Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya bulan Desember 2008, ditemukan prevalensi kehilangan gigi tetap adalah 40%, artinya mahasiswa yang sudah kehilangan/dicabut gigi tetapnya sebanyak 50 orang dari 125 orang yang diperiksa, tapi masih banyak yang belum menggunakan gigi tiruan yaitu berjumlah 43 orang (86%), dan yang memakai gigi tiruan hanya 7 orang (14%).
Melihat latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Gambaran Pengetahuan Tentang Gigi Tiruan dengan Pemakaian Gigi Tiruan pada Mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Tasikmalaya Tahun 2009”.



B. Perumusan Masalah
Bagaimana gambaran pengetahuan tentang gigi tiruan dengan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009?

C. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan penulis, skripsi dengan judul “Gambaran Pengetahuan Tentang Gigi Tiruan dengan Pemakaian Gigi Tiruan pada Mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya Tahun 2009” belum pernah ada.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui gambaran pengetahuan tentang gigi tiruan dengan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui tingkat pengetahuan tentang gigi tiruan mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009.
b. Mengetahui jumlah mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009 yang kehilangan gigi tetap.
c. Mengetahui jumlah mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi tahun 2009 di Politeknik Kesehatan Tasikmalaya yang menggunakan gigi tiruan.

E. Manfaat Penelitian
1. Menambah pengetahuan penulis dan mendapatkan gambaran tentang hubungan pengetahuan tentang gigi tiruan dengan pemakaian gigi tiruan.
2. Menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya.
3. Menambah kepustakaan di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
1. Pengertian pengetahuan
Pengetahuan adalah paham suatu subjek yang dihadapinya, yang disebut subjek ialah manusia sebagai kesatuan pelbagai macam kesanggupan (akal, panca indera dan sebagainya) yang digunakan untuk mengetahui sesuatu jelasnya manusia sebagai kesadaran, yang disebut obyek dalam pengetahuan tersebut. Sekedar benda (hal) itu merupakan realitas bagi manusia yang menyelidiki (Anshari, 1982).
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
2. Jenis pengetahuan
Berdasarkan obyeknya, atau apa yang diketahui, konsep pengetahuan dapat dibagi tiga:
a. Actuaintance knowledge
Dalam jenis pengetahuan ini kita mengetahui seseorang, tempat atau sesuatu. Jadi obyek pengetahuan model ini adalah orang, tempat atau sesuatu.
b. Pengetahuan prosedural, misalnya kita mengetahui bagaimana mengendarai sepeda atau bagaimana memasak rendang. Pada jenis pengetahuan ini, apa yang kita ketahui bukan seseorang, tempat atau sesuatu, tetapi prosedur atau tata cara mengerjakan sesuatu.
c. Pengetahuan proposisional, misalnya “saya tahu bahwa Soeharto adalah mantan Presiden RI” atau “saya tahu bahwa Jakarta adalah ibukota Indonesia” atau “saya tahu bahwa itik bisa berenang”. Jadi yang menjadi obyek pengetahuan, atau apa yang diketahui dalam pengetahuan proposisional adalah proposisi. Proposisi adalah kalimat atau statemen deklaratif yang dapat salah atau benar (Fikri, 2007).
Menurut Anshari (1982), pengetahuan dibedakan atas empat macam, yaitu:
1) Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan tentang hal-hal yang biasa, yang sehari-hari, yang selanjutnya kita sebut pengetahuan.
2) Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang mempunyai sistem dan metode tertentu, yang selanjutnya kita sebut ilmu pengetahuan.
3) Pengetahuan filosofis, yaitu semacam ilmu yang istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak terjawab oleh ilmu-ilmu biasa, yang selanjutnya kita sebut filsafat.
4) Pengetahuan theologis, yaitu pengetahuan keagamaan, pengetahuan tentang agama, pengetahuan tentang pemberitahuan dari Tuhan.


3. Tahap-tahap pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) ada beberapa tahapan dari pengetahuan, yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya. Contoh: dapat menyebutkan cara merawat gigi tiruan yang baik dan benar.
b. Memahami (comprehension)
Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari. Misalnya: dapat menjelaskan guna gigi tiruan.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi adalah kemampuan untuk menggunakan materi atau mempraktekkan ilmu yang dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Misalnya: dapat membersihkan gigi tiruan.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi tersebut dan masih berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan (membuat bahan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek, berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2003).

B. Tidak Adanya Gigi
1. Pengertian Tidak adanya gigi
Menurut Husdiari (2008), Tidak adanya gigi adalah berkurangnya jumlah gigi di dalam mulut dari jumlah yang seharusnya oleh karena berbagai faktor.
2. Penyebab tidak adanya gigi
a. Faktor genetik
1) Orang yang tidak mempunyai gigi seluruhnya.
2) Orang yang tidak mempunyai satu atau 2 gigi.
b. Faktor penyakit tertentu, kelainan fungsi tubuh (penyakit sistemik)
penderita diabetes mellitus stadium lanjut biasanya giginya lepas dengan sendirinya.
c. Faktor lokal dari dalam gigi/rongga mulut.
Karies atau infeksi jaringan gusi, karena aktivitas bakteri dapat mengakibatkan ketahanan dan kekuatan jaringan pendukung berkurang sehingga menyebabkan gigi goyang dan tidak dapat dipertahankan lagi.
d. Lain-lain, misalnya karena kecelakaan atau trauma.
( http://rumahkusurgaku.multiply.comjournal/item/34 ).

Gambar 1.
Tidak Adanya Gigi
( http://fifa2006.multiply.com/reviews/item/39)

3. Akibat tidak adanya gigi tanpa penggantian:
a. Migrasi dan rotasi gigi, yaitu berpindahnya/ bergesernya posisi gigi dari posisi asal sehingga tidak berada pada tempat yang seharusnya.
Gambar 2.
Akibat Tidak Adanya Gigi
Keterangan gambar: Akibat dari gigi yang dicabut tidak diganti, gigi sebelahnya menjadi miring ( Mozartha, 2008)


b. Erupsi berlebih, yaitu memanjangnya gigi akibat kontak gigi lawan tidak ada.
Gambar 3.
Erupsi Berlebih
Keterangan gambar: Perhatikan gigi atas yang berlawanan dengan gigi yang hilang, sedikit lebih turun dibandingkan gigi sebelahnya. Demikian Juga gigi di belakang gigi yang hilang, miring ke arah gigi yang hilang tersebut ( Mozartha, 2008)

c. Penurunan efisiensi kunyah, adalah kemampuan melumatkan makanan yang menurun akibat tidak adanya kontak gigi waktu mengunyah.
d. Gangguan pada sendi temporo mandibula, adanya gangguan sendi temporo mandibula akibat berkurangnya atau hilangnya keseimbangan beban fungsi, khususnya fungsi beban kunyah.
e. Beban berlebih pada jaringan pendukung, yaitu dengan hilangnya salah satu gigi atau beberapa gigi maka beban dari gigi yang hilang tersebut dialihkan terhadap gigi yang masih ada, sehingga beban yang diterima lebih besar dari biasanya.
f. Memburuknya penampilan, dengan hilangnya gig, terutama gigi depan (anterior) sangat mempengaruhi terhadap tingkat kecantikan seseorang.
Gambar 4.
Gangguan Estetik yang Serius
Akibat Tidak Adanya Gigi Depan (Syuhada.Cjb.Net).

g. Terganggunya kebersihan mulut, kehilangan gigi yang tidak diganti menyebabkan adanya celah yang memungkinkan akumulasi sisa makanan (plak) lebih mudah.
Gambar 5.
Terganggunya Kebersihan Mulut Akibat Tidak Adanya Gigi
Keterangan gambar: Gigi di sebelah gigi yang tidak ada tersebut akan bergerak mengisi ruang kosong yang diakibatkan oleh tidak adanya gigi tersebut, pergerakan tersebut juga akan mengakibatkan penumpukan sisa makanan yang memicu terjadinya penyakit gusi, kerusakan tulang dan karies gigi (Syuhada.cjb.net)
h. Atrisi gigi, dengan meningkatnya beban kunyah yang diterima oleh gigi yang ada maka pengikisan atau kerusakan terhadap gigi tersebut semakin besar.
i. Efek buruk pada jaringan lunak mulut, akumulasi plak atau beban kunyah yang terpusat di satu tempat mengakibatkan jaringan pendukung gigi berpotensi mengalami kerusakan (Gunadi, 1991).
.
C. Gigi Tiruan
1. Pengertian gigi tiruan
Gigi tiruan adalah suatu alat tiruan (protesa, prostesis, restorasi) yang dibuat untuk menggantikan gigi yang hilang atau jaringan sekitarnya. Gigi tiruan banyak dipelajari dalam bidang ilmu kedokteran gigi, khususnya dalam bidang prostodonsia (Gunadi, 1991).
Replika gigi (gigi tiruan) adalah gigi tiruan yang dibuat dari bahan tertentu untuk menggantikan gigi asli yang telah hilang (Husdiari, 2008).
Menurut Academy of Prosthodontic (1995), prostodonsia adalah cabang ilmu kedokteran gigi yang dimaksudkan untuk merestorasi dan mempertahankan fungsi rongga mulut, kenyamanan, estetika dan kesehatan pasien dengan cara merestorasi gigi geligi asli dan atau mengganti gigi-gigi yang sudah tanggal dan jaringan rongga mulut serta maksilofasial yang sudah rusak dengan pengganti tiruan (http://209.85.175.132/search?q).

Gambar 6.
Gigi tiruan
(http//2.bp.blogspot.com/Aisoj2E-Hro/)
2. Sejarah perkembangan gigi tiruan
Tulisan tertua yang menulis hal-hal mengenai ilmu kedokteran adalah The Edwin Smith Surgical Papirus (3.000 SM), yaitu menceritakan 48 kasus mengenai kepala, tetapi tidak satupun diantaranya membahas mengenai gigi tiruan (Gunadi, 1991). Sekitar tahun 700 sebelum masehi, orang-orang Etruscans yang tinggal di Itali Tengah membuat alat tiruan gigi dengan cara mengikat gigi yang tanggal atau gigi dari binatang pada tempat gigi yang hilang dengan menggunakan kawat emas, perak, lumut atau band (Tandian, 1997).
Praktek kedokteran gigi yang dilakukan di Romawi diduga sudah mulai dilakukan sebelum ilmu pengobatan. Catatan dari tahun 450-218 SM. Juga menyatakan tentang adanya pemakaian alat tiruan (restorasi) yang bisa dilepas-lepas, restorasi yang lebih luas, dan undang-undang yang mengatur pemakaian gigi emas dari orang mati. Herodotus menyatakan bahwa tahun 500 SM di Mesir, praktik dokter khusus gigi sudah mulai dilakukan (Gunadi, 1991).
Bangsa Cina telah membuat gigi tiruan dari gading atau tulang yang diikatkan dengan benang tembaga Orang Jepang Kuno membuat gigi tiruan dari tulang atau gading yang diukir sehingga bentuknya sesuai, lalu diikat dengan menggunakan benang usus kambing (catgut) atau kawat tembaga, sekitar tahun 1100 SM yang dilaporkan oleh Albucasis menyatakan bahwa ada Jenderal Arab yang terbunuh dalam pertempuran dikenali kembali dari gigi tiruan yang dilekatkan kawat dan diganjal emas (Gunadi, 1991).
Langkah yang merupakan awal pembuatan porselen dimulai ketika Jacques Gillemeau membuat gigi tiruan dari pasta malam putih, gum elemi, white mastic, bubuk coral and pearl pada tahun 1598. Gigi tiruan lengkap pertama yang tercatat adalah yang dibuat oleh Anton Nunck (1960), disusul oleh Lorenze Heister yang menganjurkan pemakaian gigi tiruan lepasan terbuat dari gading atau taring hipotalmus tanpa perlekatan (Gunadi, 1991).
3. Jenis-jenis gigi tiruan
a. Gigi tiruan lepasan ( Gigi tiruan yang dapat dilepas oleh pemiliknya)
1) Alasan perawatan gigi tiruan lepasan:
a) Kehilangan sebagian gigi.
b) Kehilangan seluruh gigi.
2) Gigi tiruan lepasan terbagi:
a) Gigi tiruan lepasan penuh: menggantikan seluruh gigi baik rahang atas maupun rahang bawah.
b) Gigi tiruan lepasan sebagian: menggantikan ruangan dari gigi yang hilang (kehilangan gigi sebagian), baik pada rahang atas maupun rahang bawah.

Gambar 7.
Gigi Tiruan Lepasan Penuh
(http//www/daymudedental.com/images/denture1/jpg)
3) Bahan gigi tiruan lepasan :
a) Acrylic
b) Steel denture.

Gambar 8.
Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Kerangka Logam

(http//1.bp/blogspot.com/-Aisoj2E-Hro/ )

Gambar 9.
Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Akrilik

( http//www.makingthemodernword.org.uk/).
b. Gigi tiruan cekat (gigi tiruan yang tidak dapat dilepas oleh pemiliknya)
1) Alasan perawatan gigi tiruan cekat:
a) Kehilangan sebagian gigi.
b) Mementingkan kenyamanan dan estetik penggunaan prothesa.
2) Gigi tiruan cekat terbagi:
a) Crown dan bridge: mengisi/menggantikan ruangan gigi yang hilang dengan jalan merekatkan pada gigi yang masih ada.
b) Implant gigi: menanamkan bahan tertentu ke dalam tulang rahang untuk sebagian pengganti fungsi akar gigi, yang nantinya sebagai tumpuan mahkota gigi tiruan (Husdiari, 2008).
a. bridge b. mahkota

c. gigi tiruan implan

Gambar 10.
Gigi Tiruan Cekat
(www//.dogfightink.com/implant.jpg)

4. Tujuan dan manfaat pembuatan gigi tiruan
Menurut Tandian (1997), tujuan dan manfaat dari pemakaian gigi tiruan diantaranya:
a. Memperbaiki hubungan kontak gigi (oklusi).
b. Sebagai penahan ruangan (space maintaner), yaitu untuk mencegah supra oklusi, pergeseran gigi dan atau kemiringan gigi asli.
c. Membagi tekanan kunyah sehingga lebih merata.
d. Stabilisasi gigi yang goyang.
e. Mempertimbangkan keseimbangan muskular dalam kompleks orofasial.
f. Memperbaiki fungsi mastikasi.
g. Memperbaiki fungsi fonetik.
h. Memperbaiki fungsi estetik.
i. Membuat restorasi yang dirasakan nyaman oleh penderita.
j. Memperbiki kesehatan dan keadaan umum penderita.

5. Faktor-faktor yang berperan dalam perawatan gigi tiruan
a. Faktor psikologis
Setiap orang tidak mengharapkan menggunakan gigi tiruan, tetapi apabila terpaksa karena kehilangan gigi aslinya pilihan menggunakan gigi tiruan adalah hal terbaik. Cara menerima seseorang terhadap pembuatan obyek asing yang akan dipasang dalam mulutnya tentu berbeda, ada yang bersifat menerima, ragu-ragu, menerima dengan kritikan dan tidak peduli.
b. Faktor kedudukan dan waktu
Kedudukan seseorang sangat mempengaruhi seseorang dalam hal pemasangan gigi tiruan. Seorang yang memiliki kedudukan tinggi akan membutuhkan pemakaian gigi tiruan segera, sedangkan orang yang tidak memiliki kedudukan tinggi pekerja kasar dalam hal pembuatan gigi tiruan tidak begitu memperhatikan lamanya pembuatan.
c. Faktor jenis kelamin
Biasanya perempuan lebih peduli terhadap faktor estetik, sehingga lebih banyak yang membutuhkan pemakaian gigi tiruan daripada laki-laki.
d. Faktor kesehatan umum
Menentukan gigi tiruan yang akan dipakai, harus sesuai dengan kondisi kesehatan. Penderita penyakit tertentu baik menggunakan jenis gigi tiruan tertentu pula.
e. Faktor keinginan dan sikap
Keinginan seseorang membuat gigi tiruan dan pandangannya terhadap gigi asli yang masih tinggal menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. Sebagian orang ingin mempertahankan gigi yang tersisa, ada yang tidak mempedulikan gigi yang tersisa, bahkan ada yang menginginkan gigi yang tersisa dicabut terlebih dahulu sebelum dipasang gigi tiruan (Hartianto & Stiabudi, 1991).

D. Mahasiswa
1. Pengertian mahasiswa
Mahasiswa adalah seseorang yang sedang mempersiapkan diri dengan keahlian tertentu dalam tingkat pendidikan tinggi (Somawihardja, 1998, cit. Maulani, 2008). Menurut Kamus Bahasa Indonesia, mahasiswa adalah orang yang belajar di Perguruan Tinggi. Pengertian lain mengatakan bahwa mahasiswa adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Pengertian Mahasiswa Jurusan Kesehatan Gigi adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jenjang dan jenis pendidikan tentang kesehatan gigi di Jurusan Kesehatan Gigi (Poltekkes, 2003, cit. Maulani, 2008).
2. Aspek-aspek yang perlu dipersiapkan mahasiswa
Aspek-aspek yang perlu dipersiapkan oleh mahasiswa adalah :
a. Pengetahuan dan keahlian
b. Sikap dan metode berpikir ilmiah
c. Karakter dan mental serta kepribadian
d. Sikap sosial
e. Nilai dan world-view
f. Rohani.
(Somawihardja, 1998, cit. Ratnasari, 2006).

E. Landasan Teori
Keadaan gigi ompong atau edentelous menyebabkan beberapa fungsi dari gigi menjadi berkurang. Martariwansyah (2007) mengungkapkan bahwa solusi untuk mengembalikan fungsi gigi yang hilang atau ompong serta untuk menghindari kerusakan lebih parah akibat ompong tersebut adalah dengan menggunakan gigi tiruan / protesa gigi.
Faktor yang mempengaruhi seseorang untuk dapat menggunakan gigi tiruan diantaranya adalah faktor pengetahuan, seperti diungkapkan oleh Ginanjar (2008), “saat ini masih banyak dilakukan tindakan pencabutan, tetapi banyak yang tidak memahami pentingnya pemasangan gigi tiruan.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Berdasarkan tinjauan pustaka, maka kerangka konsep digambarkan sebagai berikut:
Pengetahuan tentang gigi tiruan
Pemakaian gigi tiruan



B. Hipotesis
Ada gambaran tingkat pengetahuan tentang gigi tiruan dengan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi di Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009.

C. Rancangan Penelitian
Penelitian skripsi ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif (Notoatmojo, 2003). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan tentang gigi tiruan dengan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009, dengan pengamatan langsung menggunakan kuesioner pengetahuan tentang gigi tiruan kepada responden.


D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah seluruh mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009 yang kehilangan gigi tetap.
2. Sampel
Sampel penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009 yang kehilangan gigi tetap sebanyak 48 mahasiswa.

E. Alat dan bahan Penelitian
1. Diagnostik set
2. Alkohol
3. Kapas
4. Benizide
5. Aquadest
6. Masker
7. Sarung tangan
8. Alat ukur pengetahuan berupa kuesioner
9. Formulir pemeriksaan
10. Alat tulis.


F. Alat Ukur
Pada penelitian ini pengambilan data dilakukan dengan lembar pemeriksaan gigi geligi dan menggunakan kuesioner pengetahuan tentang gigi tiruan. Kuesioner untuk mengukur pengetahuan mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009, terdiri dari 20 item pertanyaan. Pertanyaan berbentuk pilihan ganda, jawaban yang benar diberi nilai 1, jawaban salah diberi nilai 0. Nilai kuesioner tertinggi adalah 20 dan nilai terendah adalah 0.
Jumlah nilai yang diperoleh dijadikan lima kategori, yaitu responden yang mendapat nilai:
17– 20 = baik sekali
13 – 16 = baik
9 – 12 = sedang
5 - 8 = kurang
0 – 4 = sangat kurang

G. Jalan Penelitian
1. Tahap persiapan
a. Survei pendahuluan untuk menentukan dan memperoleh data mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009, yang termasuk kriteria penelitian.
b. Mengurus izin penelitian dari Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya.
c. Menyiapkan kuesioner pengetahuan tentang gigi tiruan.
d. Persiapan tempat
Tempat yang akan digunakan untuk pelaksanaan penelitian adalah di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya.
2. Tahap pelaksanaan penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai bulan Januari 2009.
3. Cara penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan cara:
a. Pemeriksaan kepada responden untuk memeriksa keadaan kehilangan gigi akibat pencabutan
b. Pemeriksaan kepada responden untuk mengetahui memakai atau tidak memakai gigi tiruan sebagai pengganti gigi yang tidak ada tersebut.
c. Responden diminta mengisi kuesioner yang sudah dipersiapkan.

H. Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara manual. Dalam analisis data penulis menggunakan analisis sederhana yaitu dengan menggunakan analisis prosentase (%). Untuk kriteria pengetahuan dan pemakaian gigi tiruan mahasiswa Jalur Umum Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya, memakai penghitungan analisa :


Keterangan: p = Prosentase
n = Nominal
N = Jumlah total
(Tietjen, cit. Ruhyat, 2007).

I. Variabel Penelitian
1. Variabel bebas
Pengetahuan tentang gigi tiruan mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009.
2. Variabel terikat
Pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009.

J. Definisi Operasional
1. Pengetahuan adalah merupakan pemahaman mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya seseorang tentang gigi tiruan
2. Gigi tiruan adalah gigi tiruan yang dibuat dari bahan tertentu untuk menggantikan gigi asli yang telah hilang
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran umum sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin
Penelitian dilakukan pada mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009. Penelitian mengambil total sampling mahasiswa jalur umum yang kehilangan gigi tetap sebanyak 48 responden yang terdiri dari 12 responden laki-laki (25%) dan 36 responden perempuan (75%).

B. Pembahasan
Penelitian dilakukan pada 48 mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009, yaitu melakukan pemeriksaan dan tes uji pengetahuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang gigi tiruan dengan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya Tahun 2009.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Jumlah sampel penelitian yang kehilangan gigi tetap sebanyak 48 responden, hanya 7 responden (14%) yang memakai gigi tiruan dan 41 responden (86%) tidak memakai gigi tiruan, gambaran kriteria pengetahuan dengan pemakaian gigi tiruan, maka kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria sangat kurang tidak ada (0%), kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria kurang sebanyak 5 responden (10,4%) dan semuanya tidak memakai gigi tiruan, kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria sedang sebanyak 5 responden (14,3%) yang memakai gigi tiruan dan 16 responden (85,7%) tidak memakai gigi tiruan, kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria pengetahuan baik sebanyak 1 responden (5,9%) memakai gigi tiruan dan 16 responden (94,1%) tidak memakai gigi tiruan dan kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria pengetahuan sangat baik sebanyak 1 responden (20%) memakai gigi tiruan, 4 responden (80%) tidak memakai gigi tiruan.
Kehilangan gigi adalah berkurangnya jumlah gigi di dalam mulut dari jumlah yang seharusnya oleh karena berbagai faktor: faktor genetik, faktor penyakit sistemik, faktor lokal dari dalam gigi dan faktor lain seperti trauma atau kecelakaan (Husdiari, 2008).
Jadi gambaran pengetahuan dengan pemakaian gigi tiruan menurut hasil penelitian yang penulis peroleh dengan penghitungan kriteria pengetahuan yang memakai dan tidak memakai gigi tiruan menggunakan rumus prosentase (%), dengan hasil : yang memakai gigi tiruan sebanyak 7 responden (14,6%) dengan kriteria pengetahuan sedang sebanyak 5 responden (10,4%), kriteria baik sebanyak 1 responden (2,1%) dan kriteria pengetahuan sangat baik sebanyak 1 responden (2,1%). Sedangkan yang tidak memakai gigi tiruan sebanyak 41 responden (85,4%) dengan kriteria pengetahuan kurang sebanyak 5 responden (10,4%), kriteria sedang sebanyak 16 responden (33,3%), kriteria baik sebanyak 16 responden (33,3%) dan kriteria sangat baik sebanyak 4 responden (8,3%).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa gambaran pengetahuan tentang gigi tiruan dengan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa Jalur Umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009 adalah :
1. Menggambarkan tingkat pengetahuan tentang gigi tiruan dengan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa Jalur Umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009
2. Tingkat pengetahuan tentang gigi tiruan dengan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa Jalur Umum di Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya tahun 2009, adalah sebagai berikut :
a. Kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria pengetahuan sedang ada 21 responden (43,8%), 5 responden (10,4%) memakai gigi tiruan dan 16 responden (80,6%) tidak memakai gigi tiruan.
b. Kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria pengetahuan baik ada 17 responden (35,4%), 1 responden memakai gigi tiruan (5,9%) dan 16 responden tidak memakai gigi tiruan (94,1%).
c. Kelompok mahasiswa yang mempunyai kriteria pengetahuan sangat baik ada 5 responden (10,4%), 1 responden memakai gigi tiruan (20%) dan 4 responden tidak memakai gigi tiruan (80%).

B. Saran
1. Harus ada penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor lain yang menggambarkan pemakaian gigi tiruan pada mahasiswa jurusan kesehatan gigi Politeknik Tasikmalaya, seperti faktor psikologis, faktor ekonomi, serta faktor kedudukan dan waktu.
2. Diharapkan mahasiswa jalur umum di Jurusan Kesehatan Gigi Tasikmalaya segera memakai gigi tiruan agar tidak menimbulkan dampak negatif yang lebih lanjut.